PONDOK PESANTREN AL-JAUAHAREN. Jln.KH.Ahmad Majid. Tanjung Johor. Seberang Kota Jambi. Indonesia.
Al-Jauharen Cup Cup Cua Slideshow: Al-Jauharen’s trip to Jambi, Sumatra, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Jambi slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.

Persatuan dan Kesatuan Bangsa dan Agama


Secara khusus di Indonesia. Bangsa Indonesia merupakan kumpulan masyarakat yang multi kultural dan pluralistik di dunia. Di Indonesia ada ratusan suku dan sub-suku dengan ciri khas sosio-kulturalnya masing-masing; mempunyai aneka ragam bahasa suku dan sub-suku; ada banyak cara penyembahan kepada Ilahi sesusai sikon hidup dan kehidupan; bahkan terdapat berbagai macam karakteristik manusia, dan seterusnya.
Pada landasan atau dasar utama perundang-undang di Indonesia, pendiri-pendiri bangsa telah melakukan suatu kesepakatan bersama yang tertuang dalam dan melalui UUD 45, bahwa negara menjamin kebebasan bangsa Indonesia untuk beragama; dan bukan menentukan rakyat memeluk salah satu atau hanya satu agama. Artinya, adanya peluang dan kesempatan seluas-luasnya untuk keseluruhan rakyat dan bangsa, agar bisa memeluk atau menjadi umat salah satu agama yang ada dan berkembang di Indonesia.
Ketika para penyebar agama masuk ke Indonesia dengan berbagai perbedaan kepentingan dan latar belakang. Mereka langsung berhadapan dengan berbagai pola, sistem, struktur hidup dan kehidupan sosial, budaya, penyembahan yang sudah ada sebelumnya. Atau, mereka berhadapan dengan kerohanian asli bangsa dan rakyat Nusantara. Dan tidak menutup kemungkinan, para penyebar agama tersebut, melakukan berbagai penyesuaian bahkan pencampuran ajaran agama dan unsur-unsur kebudayaan masyarakat suku dan sub-suku Indonesia.
Tingkat kemajuan dan perkembangan masyarakat Indonesia yang tidak seimbang juga menyumbang aneka perbedaan. Pada masyarakat, masih ditemukan kelompok yang tradisional-agraris; sementara yang lain sudah melompat ke tatanan industri serta tekhnologi sederhana; dan sebagian kecil sudah naik ketingkat tekhnologi tinggi dan informasi global. Keberadaan seperti itu bisa berdampak pada munculnya sikap menerima nasib karena tidak bisa mengejar kemajuan. Dan mereka yang tidak bisa mengejar kemajuan tersebut merupakan orang-orang yang paling mudah difungsikan sebagai alat kekerasan sosial, politik, etnis, dan agama.
Bersamaan dengan semuanya itu, faktor-faktor yang berhubungan identitas seperti agama, etnis, adat istiadat merupakan hal yang sangat penting pada masyarakat Indonesia, karena telah menjadi semacamya identitas bersama; maka dapat menjadi alat perekat untuk membangun bangsa. Atau pun, kekuatan untuk memperlihatkan keunggulan serta kelebihan dari komunitas yang lain. Akan tetapi, bisa menjadi kekuatan untuk merendahkan, meremehkan, merusak dan mengancam mereka yang berbeda agama, etnis, suku dan sub-suku. Di samping itu, diakui atau tidak, kemajemukan bangsa Indonesia, ada faktor-faktor yang menunjukkan keunggulan [dan juga sebaliknya] etnis, ras, agama, golongan sangat terasa gemanya di tengah-tengah hidup dan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.
Jika semua perbedaan itu ditambah lagi dengan perbedaan ajaran agama; kemudian terbungkus menjadi suatu paket perbedaan pada hidup dan kehidupan manusia, berbangsa, bernegara, maka Indonesia tidak akan menjadi bangsa yang maju, besar, dan diperhitungkan dalam pergaulan Internasional. Oleh sebab itu, agama-agama harus berperan bukan untuk memelihara aneka perbedan, melainkan mengembangkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Agama [tokoh agama, penguasa yang berbeda agama, dan program-program pelayanan kepada masyarakat dalam agama-agama] tidak lagi mementingkan kepentingan umatnya saja, tetapi semua bangsa dan rakyat Indonesia. Agama harus memberikan perhatian terhadap seluruh tatanan sosial masyarakat dalam rangka kebersamaan untuk membawa kemajuan serta kesejahteraan hidup dan kehidupan. Dalam upaya untuk membawa kemajuan serta kesejahteraan masyarakat, para pemimpin kelompok agama bisa melampaui batas-batas sosial di dan dalam masyarakat. Karena umat beragama [pada satu agama] biasanya terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, profesi, pendidikan, dan lain-lain.
Dalam konteks berbangsa dan bernegara masyarakat Indonesia yang pluralistik, agama-agama tidak perlu mewariskan berbagai kemajemukan masa kini sebagai sesuatu yang ditakuti dan dihindari. Umat beragama di Indonesia [terutama para pemimpin institusi keagamaan] selayaknya memperlihatkan agama sebagai rahmat atau anugerah TUHAN; Ia juga membiarkan adanya kepelbagaian sebagai salah satu tanda adanya dinamika hidup dan kehidupan. Ia adalah TUHAN yang Esa, dan keesaan-Nya adalah milik-Nya sendiri, tetapi manusia penuh kepelbagaian karena ia [mereka] adalah ciptaan-Nya. Sehingga umat beragama berani mengembangkan hidup dan kehidupan di tengah-tengah komunitas masyarakat yang berbeda agama dengannya, tanpa harus takut ditolak, tidak diterima, diejek, melainkan rasa aman serta tenteram.
Rasa aman dan tentram tersebut, tidak muncul tiba-tiba melainkan melalui suatu proses untuk mencapai pengenalan serta memahami satu dengan yang lain. Proses itu hanya bisa terjadi jika adanya dialog dan diskusi antar umat beragama. Dialog dan dan diskusi itu bukan untuk memperlihatkan pelbagai perbedaan ajaran, melainkan kebersamaan pandangan tentang aspek-aspek hidup dan kehidupan. Sekaligus mampu memahami agama orang lain dengan benar; serta meningkatkan ikatan persaudaraan sebagai rakyat dan bangsa Indonesia, yang membawa pada peningkatan kerjasama dalam berbagai bidang


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Proklamasi